Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa
ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh
Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari
jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:
“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik,
tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu
Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah
ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka
beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat.
Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala
al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan
bagi-Nya bagaimana, karena "bagaimana" (sifat benda) tidak ada
bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah,
keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari
majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)".
Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah
seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”,
hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata
“Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut,
sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya,
maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.
Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm
al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam
Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul
(al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah
adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini
ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini
dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata
“al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam
al-Qur'an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair
Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di
dalam al-Qur’an.
Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn
Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”,
sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi
Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang
Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda
dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i
dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam
atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, --menurut mereka--, Kayfiyyah-Nya
tidak diketahui. A'udzu Billah.
Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita
katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd
ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa
tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian,
oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam
pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku
pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya.
Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.
Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah
di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering
mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”.
Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam
Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain
adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka
mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali
mengatakan: "Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya
tidak diketahui". Atau terkadang mereka juga berkata: "Allah duduk di
atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui". jadi, Perkataan kaum
Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah
untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan
yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A'udzu Billah.
Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah
meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada
di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau,
seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah
Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan
mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas
-penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat
benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman
kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa
tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang
ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan
orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari
al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd
ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).
Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah
al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam
karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:
“Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai
ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah
Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini
secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah
duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna
zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang
Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam
Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi
Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan
makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli
bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).
Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa
ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena
menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli
bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan
terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam!
Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih
dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan
duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi
jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.
Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber
al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik
adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis
fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid,
berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya.
Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam
al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama
terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi
Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada
tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir
mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La
Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di
atas nabi Yunus ibn Matta).
Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa
Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut
nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada
tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke
arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah
hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan
besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya
bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya,
karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena
berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah
kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian,
hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat
dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa.
Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki
dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah);
yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula
perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi
dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).
Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari
Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah
berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama
sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli
hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata:
“’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang
yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak
meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun
berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak
menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam
kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).
Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam
Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata
tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada
al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.
No comments:
Post a Comment