Saturday, 28 June 2014

WAHABI Sesatkan Ulamak Yang Takwil

HABIB SEPELET : ALLAH Wujud Tanpa Tempat

5 September 2013 at 20:32
Ibnu Katsir Membuktikan Kesesatan Aqidah Wahhabiy dan Ibnu Taimiyah Berkenaan Tafsir Ayat "ISTIWA".

سُوۡرَةُ یُونس
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ‌ۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦ‌ۚ ذَٲلِڪُمُ ٱللَّهُ رَبُّڪُمۡ فَٱعۡبُدُوهُ‌ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (٣


Surah Yunus
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menjadikan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arasy mentadbirkan segala urusan. Tidak ada sesiapa pun yang dapat memberi syafaat melainkan sesudah diizinkanNya. (Yang bersifat demikian) itulah Allah, Tuhan (yang memelihara dan mentadbirkan keadaan) kamu; maka tunduklah dan taatlah kamu kepada perintahNya; patutkah kamu setelah mengetahui kenyataan yang tersebut tidak mahu mengingatiNya? (3)



Bagaimana cara ulama ahli sunnah wal jamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dengan ayat-ayat dan hadis-hadis sifat ?

Ayat-ayat sifat disini adalah ayat Al Quran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata, tangan, naik turun yang di sandarkan kepada ALLAH dan lain-lain yang jika salah dalam memahamimya seseorang boleh masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa ALLAH SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hamba-NYA). Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat ALLAH SWT ). Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan terperinci agar umat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadis-hadis sifat .

Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah wal jamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :

Pertama adala tafwidh, maksudnya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT kerana khawatir jika di fahami sesuai zahir lafaznya akan merosakkan aqidah. Misalnya disaat ALLAH menyebut tangan yang di nisbahkan kepada ALLAH, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada ALLAH SWT.   Ibnu katsir adalah salah seorang ulama yang menggunkan kaedah ini.

Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan ALLAH diertikan dengan kekuasaan ALLAH yang memang makna kekuasaan itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Al Quran dan hadis.

PERHATIAN

1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf DAN ulama khalaf. Pendapat yang mengatakan at tawfid adalajh kaedah salaf dan at ta'wil adalah kaedah ulama khalaf adalah TIDAK BENAR.

2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini. Maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu kerana mentakwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang TIDAK MENGERTI bagaimana mentakwil dan mereka Juga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu (SALAF) kerana banyak riwayat ta’wil yang datang dari para salaf..

3-Ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sedari. Misalnya disaat mereka mengatakan bahwa ALLAH berada di atas ‘arsy ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan ALLAH di arsy ini di ta’wili. Akan tetapi dengan tidak di sedari mereka menjelaskan keberadaan ALLAH di arsy dengan penjelasan bahwa arsy adalah makhluk terbesar (seperti bola dan semua makhluk yang lain di dalamnya. Kemudian mereka mengatakkan dan ALLAH SWT berada di atas Arsy yang besar itu di tempat yang namanya makan ‘adami (tempat yang tidak ada). Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua ? Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran). Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang ALLAH dan arsy, para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada ALLAH SWT, sementara ahli ta’wil mengatakan ALLAH menguasai Arsy dan tidaklah salah kerana memang ALLAH dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Arsy, sebab memang ALLAH maha kuasa terhadap segala sesuatu.

Wallhu a’lam bishshowab

No comments:

Post a Comment